Beberapa hari belakangan ini entah kenapa saya begitu suka dengan nasyid dari group Seismic, khususnya album Terlabuhkan. Lagu-lagu dalam album tersebut seperti Syukur, Terlabuhkan, Adalah Engkau, Rumahku Surgaku, begitu sering saya dengarkan. Bahkan berulang-ulang. Entah kenapa.Yang pasti mungkin karena lagu di Album tersebut hampir kebanyakan bertemakan tentang pernikahan.
Oh Ya. Hari ini adalah hari terakhir saya masuk kerja sebelum Hari H tgl 4 Desember. Insya Allah hari jumat depat (tgl 10 Desember 04) sudah masuk kerja lagi. Sebelum undur diri sementara, saya mohon maaf apabila ada postingan saya di Blog ini yang kurang berkenan di hati Blogger's sekalian, khususnya teman-teman di IMB. Doakan terus saya dalam setiap shalatmu ya :) . Dan juga mohon maaf bila akhir-akhir ini postingan saya banyak yang bernuansa merah jambu :D.
Banyak yang bertanya pada saya, bagaimana perasaan saya di detik-detik menjelang hari H. Cukup bingung saya menjawabnya. Tapi yang jelas perasaan saya berwarna-warni,beragam rasanya (emang nano nano, he he ), deg-gegan juga, bahagia, khawatir juga dan yang lainnya yang tidak bisa saya lukiskan. Dan alhamdulillah persiapan menjelang hari H sejauh ini masih lancar.
Terakhir, Izinkankanlah saya bersenandung dengan lagu dibawah ini :)
===============
SYUKUR
Seismic
Segala puji pada-Mu Ya Rabbi
Atas rahmat hari ini
Terlabuh sudah
Cinta suci sejati dari hati
Janji tlah terucap akad tlah tercipta
Tuk bersama jalani hari
Ya Allah Rabbi bimbinglah kami
Dalam menempuh hidup ini
Marilah dinda kita melangkah
Bersama saling membina
Doakanlahku di setiap langkahku
Doamu penyejuk kalbu
Oh dinda menjadilah bunga
Di indahnya taman cinta
Ya Allah bimbinglah kami
Di dalam perjalanan ini
ADALAH ENGKAU
Seismic
Adalah Engkau dia yang kurindu
Tuk menjadi bunga dihatiku
Menjadi peneduh kalbu
Diperjalananku
Tibalah waktu yang telah kurindu
Tuk selalu bersama denganmu
Tlah terbuka pintu itu
Akad tlah terucap sudah
Dinda marilah melangkah
Dinda temanilah aku di setiap detikku
Dengan doamu
Bila terpisahkan waktu
Tetaplah di sini di dalam hatiku
Ya Rabbi izinkanlah kami
Untuk terjaga selalu di jalan-Mu
Dinda doamu laksana pelepas dahaga
Di lelahnya jiwa
Adalah engkau dia yang kurindu
Tuk selalu hadir dihidupku
Mengiringi setiap langkah saat menuju
Acuan hidup ini
===============
Allahu Alam bishawab
Wass wr wb
~IdE~
kemana harus melepas gundah?
kemana harus melepas resah?
kemana harus mengusir lelah?
kemana harus mengusir sepi?
kemana harus melabuhkan rasa?
kemana rasa harus bermuara?
ketika arus semakin deras,
ketika asa tak bisa lagi dipendam
kemana hati harus menepi?
ketika tak mudah lagi dijaga
kemana rindu harus berlabuh?
ketika tak ada tempat berteduh
-----
-----
;seorang bujang akan melepas lajang
melalui ikatan yang suci
sebuah perjanjian yang sangat berat, Mitsaqon Ghalidon, terlabuhkanlah semua itu
~IdE~
#H-3#
Kamar itu sempit. Seorang pria muda lamat-lamat memandangi buku-buku yang berserakan dihadapannya. Entah sejak kapan dia membelinya. Satu-persatu buku dia baca. Tak setiap buku habis dia baca memang, tapi hampir setiap bagian dari buku-buku tersebut dia lahap. Entah sudah berapa kali dia membaca buku dengan judul yang tetap sama itu. Nampak tulisan "Kupinang dengan Hamdalah", "Menikah di jalan Dakwah", "Kado pernikahan untuk istriku", "Sebelum Anda Mengambil Keputusan Besar Itu","Biar kuncupnya mekar jadi bunga" dan beberapa buku lain yang kalo diselidik bertemakan tentang keluarga atau pernikahan. Akankah memang si pria itu akan menikah dalam waktu dekat ini? ataukah memang dia hanya sekedar membaca untuk mengumpulkan informasi dan memantapkan hati untuk menikah?
Gemericik hujan dan udara dingin kota kembang memecah sunyi di kamar itu. Alunan akustik gitar dan lantunan lirik lagu dari seismic membuat ruang hatinya berwarna warni. Rumahku Surgaku, Ya ... itu judul lagunya, dari album group nasyid seismic, Terlabuhkan.
Hujan semakin deras, udara semakin dingin, dan pria tersebut semakin larut dengan bacaannya.
Dua hati menyatu kini
Di dalam ikatan yang suci
Tuk mengikuti sunnah Nabi
Berharapkan ridha Illahi
Semoga akan terciptakan
Keluarga penuh kasih sayang
Seperti yang pernah disampaikan
Rasulullah tentang keluarganya
Rumahku Syurgaku
Tempat berlabuh hati yang teduh
Ya Allah Rabbi teguhkan kami
Dalam menempuh perjalanan nanti
Ya Allah Rabbi dekatkan kami
Selalu padamu disetiap waktu
Rumahku Syurgaku
Tempat di mana jiwa berlabuh
Rumahku syurgaku
Tempat di mana rindu berteduh
(Rumahku surgaku, Album Terlabuhkan - Seismic)
~ IdE ~
H-5
sekuncup bunga menerawang
memikirkan kumbang yang tak kunjung datang
dimanakah sang kumbang?
masihkah dia di awang-awang?
satu, dua, tiga hari ...
sang bunga tetap menerawang
dengan hati yang tak bisa riang
haruskah aku yang menjemput kumbang?
haruskah aku layu sebelum berkembang?
demikian sang bunga dengan tetap menerawang
disudut yang lain,
sang kumbang kesana-kemari terbang
untuk mencari kuncup bunga ditaman yang rindang
kemana lagi aku harus datang?,
supaya hati tak lagi bimbang,
padahal hanya satu bunga yang aku rindukan
sampai akhirnya nyiur angin membawa datang
semerbak harum wewangian
dari kuncup bunga yang akan mekar
lamat-lamat sang kumbang mencium semerbak itu
tanpa pikir panjang,
kumbang mencari dari mana semerbak datang
perlahan sang kumbang terbang
dengan sayap tetap mengembang
hatta ......
sang bunga terlihat riang,
mekar, merekah merona merah
ketika kumbang menyambangi datang
dan kumbang tak lagi bimbang
~ IdE ~
#H-8#

Setiap kita (pasti) pernah menangis. Air mata identik dengan tangisan. Haru, duka, suka, kesal, nestapa senantiasa mengiri tangisan tersebut. Tangisan kebahagian, tangisan kedukaan senantiasa saling beriringan. Apakah kita tidak boleh menangis ? tentu saja boleh, bahkan Nabi Muhammad s.a.w pernah bersabda: "Tiap mata pasti akan menangis pada hari kiamat kecuali mata yang dipejamkan dari segala yang haram dan mata yang berjaga malam dalam jihad fisabilillah dan mata yang menitiskan air mata walaupun sebesar kepala lalat kerana takutkan Allah s.w.t." (Riwayat Abu Naim).
Lalu apa hubungannya Air mata dengan suasana idul Fitri? bagi saya khususnya?
Idul Fitri ... kata tersebut senantiasa memberikan rasa yang berbeda di hati ini.
Idul FItri ... sebuah kata yang tak asing lagi ditelinga kita, khususnya umat islam. Di indonesia, Idul Fitri identik dengan mudik, ketupat, opor ayam dan lainnya.
Senantiasa ada nuansa yang berbeda di hari raya yang suci itu. Kebahagiaan, saling bermaafan, bertukar salam dan kartu lebaran.
Entah mengapa ... sudah 2 lebaran terakhir ini ada nuansa yang sangat berbeda yang saya alami. Lebaran tahun lalu, seorang hamba Allah, Uwak saya (kakak ibu saya) dipanggil ke rahmatullah tepat pada H-1 lebaran tahun lalu. Sampai akhirnya Allah lebih sayang pada uwak saya dengan memanggilnya ke Rahmatullah. H-1 lebaran tahun kemarin kami lalui dengan linangan air mata melepas kepergian beliau ke alam baqa.
Bagaimana dengan lebaran kali ini? Tepat 1 pekan setelah lebaran tahun ini, kembali satu orang uwak saya (kakaknya bapak) dipanggil ke rahmatullah. Masih dalam suasana lebaran, ketika panganan lebaran belumlah habis, ketika ketupat dan opor ayam masihlah tersedia untuk dimakan, salah satu orang yang kami cintai berpulang ke rahmatullah setelah stroke-nya kambuh lagi, ketika beliau jatuh di kamar mandi. Setelah dibawah kerumah sakit dan dirawat satu hari, Allah lebih menyayangi orang yang kami sayangi, beliau berpulang kerahmatullah.
Sudah keharusan sebagai seorang muslim apalagi saya sebagai keluarganya untuk mengurus jenanah beliau dari memandikan, mengkafani, men-shalatkan sampai menguburkan.
Ditinggalkan orang yang kita sayangi mungkin menyisakan duka di hati kita. Bagaimana tidak, Rasullullah junjungan kita, Muhammad SAW pernah sangat bersedih atas meninggalnya Ibrahim, anak beliau. Ketika Rasulullah berkata :
"Oh Ibrahim, kalau bukan karena soal kenyataan, dan janji yang tak dapat dibantah lagi, dan bahwa kami yang kemudian akan menyusul orang yang sudah lebih dahulu daripada kami, tentu akan lebih lagi kesedihan kami dari ini." Dan setelah diam sejenak, katanya lagi: "Mata boleh bercucuran, hati dapat merasa duka, tapi kami hanya berkata apa yang menjadi perkenan Tuhan, dan bahwa kami, O Ibrahim, sungguh sedih terhadapmu."
Muslimin yang melihat Muhammad SAW begitu duka, beberapa orang terkemuka hendak mengurangi hal itu dengan mengingatkannya akan larangannya berbuat demikian. Tapi ia menjawab: "Aku
tidak melarang orang berduka cita, tapi yang kularang menangis dengan suara keras. Apa yang kamu lihat dalam diriku sekarang, ialah pengaruh cinta dan kasih didalam hati. Orang yang tiada menunjukkan kasih sayangnya, orang lain pun tiada akan menunjukkan kasih sayang kepadanya."
Disaat yang lain saya harus mempersiapkan segala hal berkaitan dengan walimahan (pernikahan) saya yang Insya Allah akan dilaksanakan pada 21 Syawal 1425 H, 13 hari kemudian setelah berpulangnya Uwak saya. Alhamdulillah kami sekeluarga menerima dengan ikhlas kepergian beliau. Karena sekali lagi Kematian adalah sudah Allah tentukan. Sebagaimana firman Allah :
Al Jumu'ah:8. "Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan."
dan dalam surat Al Waqiah:60. "Kami telah menentukan kematian di antara kamu dan Kami sekali-sekali tidak akan dapat dikalahkan"
Biar kuncupnya mekar jadi bunga, itu adalah judul buku kumpulan kolom ayah karya Anis Matta.
Beberapa waktu yang lalu, sibuk tanya sana sini tentang buku tersebut. Dapat referensi dari teman bahwa buku tersebut adalah buku wajib buat calon Ayah atau yang sudah jadi Ayah tapi gak tahu mau ngapain. Saya pikir .. apa benar sih demikian ?
Mengenai Anis Matta sendiri saya tidak meragukan kualifikasi beliau. Tulisan-tulisannya sangat bagus, tajam, menyentuh dan indah kata-katanya dengan kedalaman makna dan hikmah. Terakhir saya beli bukunya yang berjudul mencari pahlawan indonesia, sebuah buku kumpulan tulisan beliau di majalah tarbawi kolom serial kepahlawanan. Dan juga buku Sebelum Anda Mengambil Keputusan Besar Itu (Kumpulan Ceramah Tentang Pernikahan), Asy-Syaamil, 2003. Alhamdulilah dulu sempat hadir di bedah buku mencari pahlawan indonesia yang diselenggarakan majalah tarbawi di Mesjid PUSDAI Jabar. Dan tentu saja ust. Anis Matta yang hadir sebagai pembicaranya.
Kembali ke buku Biar kuncupnya mekar jadi bunga, begitu mendapat referensi dari teman, saya langsung sibuk mencari itu buku. Tanya sana sini ttg keberadaan buku itu. Akhirnya setelah kesana-kemari mencari, dapatlah itu buku di sebuah toko buku mungil belakang mesjid Salman ITB. Alhamdulillah.
Dan ternyata, benarlah bahwa buku itu sangat bagus untuk dibaca. Khususnya bagi calon ayah dan bagi seorang ayah. Pengalaman sehari-hari seorang Anis Matta ditambah kisah beberapa orang lain yang dimasukkan dalam buku itu sungguh memberikan nuansa lain dan sudut pandang lain bagi seorang ayah dan calon ayah.
Biar kuncupnya mekar jadi bunga ... Ya .. Biarkanlah Kuncupnya mekar menjadi bunga. Mekar merekah ditaman yang indah. memancarkan warna yang merona merah. Biarkan kumbang bersemayam di kuncup bunga, sehingga kuncupnya merekah dan mekar menjadi bunga.
Bagi seorang calon ayah ... anda akan menjadi seorang Ayah kalau Allah mengijinkan, seperti dikutip dalam buku itu, seorang Ayah akan menjadi tulang punggung keluarganya, akan menjadi tempat bergelayut keluh-kesah anak dan istri anda. Akan ada beberapa orang yang berlindung pada Anda. Siapkah Anda menjadi tulang punggung keluarga? siapkah Anda menjadi pelindung keluarga? Termasuk tentunya bagi saya. Siapkah saya menjadi seorang Ayah, pemberi nafkah lahir & bathin buat keluarga, pemberi rasa nyaman buat orang yang nanti berlindung dibelakang saya?
Allahu Alam
~IdE~
H-9
"Ayah .. begitu menggetarkan panggilan itu" , demikian penggalan artikel dari kolom ayah anis Matta.
Menjadi teringat akan diri ini. Ayah ... Akankah saya menjadi seorang ayah? sudah pantaskah saya menjadi seorang ayah?
Pernikahan adalah cara menjadi seorang ayah. Pernikahan yang berarti menggenapkan Dien kita. Begitu agungnya pernikahan, sehingga Al Qur’an menyebut Akad Nikah sebagai Mitsaqon Ghalidon [perjanjian yang berat].
Antara harap dan cemas, begitulah suasana hati ini menjelang detik-detik akad nikah yang insya Allah tinggal dalam hitungan hari lagi.
Menikah ... bukan hanya bergabungnya 2 individu, tapi juga bergabungnya 2 buah keluarga, yang bisa jadi memiliki latar, karakter dan kebudayaan yang berbeda. Setidaknya aku sudah bisa merasakan nuansa tersebut.
Allah telah berfirman:
“Diantara tanda-tanda keangungan Allah, ialah Dia ciptakan bagimu, dari jenis-jenismu sendiri, pasangan-pasangannya. Supaya kamu hidup tentram bersamanya, dan Allah jadikan bagimu cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya dalam hal itu ada tanda-tanda bagi orang-orang yang mau berfikir”. [QS 30 : 21]
Dalam sebuah artikel yang pernah saya baca, bahwa Ayat ini ditempatkan Allah pada rangkaian ayat tentang tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta. Tentang tegaknya langit, terhamparnya bumi, gemuruh halilintar dann keajaiban penciptaan manusia. Dengan ayat ini Dia ingin mengajarkan kepada kita betapa Dia dengan sengaja menciptakan kekasih yang menjadi pasangan hidup manusia yang bersedia berdiri dengan setia disamping kita, yang mau mendengar bukan saja kata-kata yang diucapkan, melainkan juga jeritan hati yang tidak terungkapkan, yang mau menerima perasaan tanpa pura-pura, prasangka dan pamrih, yang mampu meniupkan kedamaian, mengobati luka, menopang tubuh lemah dan memperkuat hati.
Allah menetapkan suatu ikatan suci, yaitu Akad Nikah, agar hubungan antara pecinta dan kekasihnya itu menyuburkan ketentraman, cinta dan kasih sayang. Dengan dua kalimat yang sederhana “Ijab dan Qabul” terjadilah perubahan besar: yang haram menjadi halal, yang maksiat menjadi ibadat, kekejian menjadi kesucian, dan kebebasan menjadi tanggung jawab. Maka nafsu pun berubah menjadi cinta dan kasih sayang.
Peristiwa Akad Nikah bukanlah peristiwa kecil di hadapan Allah. Akad Nikah tidak saja disaksikan oleh kedua orang tuanya, saudara dan sahabat-sahabat tetapi juga disaksikan oleh para malaikat di langit yang tinggi dan terutama sekali disaksikan oleh Allah Rabbul Izzati [Penguasa Alam Semesta]. Maka apabila kamu sia-siakan perjanjian ini, ikatan yang sudah terbuhul, janji yang terpatri, kamu bukan hanya harus bertanggung jawab kepada mereka yang hadir, tetapi juga dihadapan Allah Rabbul Alamin
Begitu trenyuh hati ini membaca artikel tersebut. Bergetar qolbuku meresapi uraian tersebut.
Disaat yang lain, saya teringat akan hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari & Muslim :
“Laki-laki adalah pemimpin di tengah keluarganya, dan ia harus mempertanggung jawabkan kepemimpinannya. Wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan ia harus mempertanggung jawabkan kepemimpinannya.” [HR Bukhori dan Muslim]
“Yang paling baik diantara kamu adalah yang paling baik dan lembut terhadap keluarganya”. [HR Bukhari]
Sebuah kepemimpinan. Ya... saya adalah laki-laki, dan dalam hadist tersebut disebutkan bahwa laki-laki adalah pemimipin di tengah keluarganya. Dan setiap kepemimpinan akan dimintai pertanggungjawabannya dihadapan Allah SWT. Sebuah Tanggung jawab yang luar biasa beratnya. Ya Allah ... mampukanlah saya memikul tanggung jawab ini, agar bisa menjadi nahkoda rumah tangga dan mengantarkan kapal rumah tangga selamat mengarungi bahtera dan badai yang tentunya senantiasa menghadang .. dan sampaikanlah ke pantai surga-Mu ya Allah ...
“Ya Allah, karuniakan kepada kami isteri dan keturunan yang menentramkan hati kami, dan jadikanlah kami penghulu orang-orang yang bertaqwa”.
Ya Allah…
Indahkanlah rumah kami dengan kalimat-kalimat-Mu yang suci. Suburkanlah kami dengan keturunan yang membesarkan asma-Mu. Penuhi kami dengan amal shaleh yang Engkau ridhai. Jadikan mereka Yaa…Allah teladan yang baik bagi manusia
~IdE~
H-10
