Blogg'ers

<< October 2007 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31



Link & Resources

  • L i n u x

    [Writing]
  • F L P
  • Cyber Sastra
  • Startup Writing
  • Espacio Temporal
  • Business & Finance
  • Gadgets Reviews
  • Travel & Culinary




    Page RankSite Meter


    If you want to be updated on this weblog Enter your email here:

    rss feed

    Contact Me

  •    
    Thursday, December 02, 2004
    2 days more

    Beberapa hari belakangan ini entah kenapa saya begitu suka dengan nasyid dari group Seismic, khususnya album Terlabuhkan. Lagu-lagu dalam album tersebut seperti Syukur, Terlabuhkan, Adalah Engkau, Rumahku Surgaku, begitu sering saya dengarkan. Bahkan berulang-ulang. Entah kenapa.Yang pasti mungkin karena lagu di Album tersebut hampir kebanyakan bertemakan tentang pernikahan.

    Oh Ya. Hari ini adalah hari terakhir saya masuk kerja sebelum Hari H tgl 4 Desember. Insya Allah hari jumat depat (tgl 10 Desember 04) sudah masuk kerja lagi. Sebelum undur diri sementara, saya mohon maaf apabila ada postingan saya di Blog ini yang kurang berkenan di hati Blogger's sekalian, khususnya teman-teman di IMB. Doakan terus saya dalam setiap shalatmu ya :) . Dan juga mohon maaf bila akhir-akhir ini postingan saya banyak yang bernuansa merah jambu :D.

    Banyak yang bertanya pada saya, bagaimana perasaan saya di detik-detik menjelang hari H. Cukup bingung saya menjawabnya. Tapi yang jelas perasaan saya berwarna-warni,beragam rasanya (emang nano nano, he he ), deg-gegan juga, bahagia, khawatir juga dan yang lainnya yang tidak bisa saya lukiskan. Dan alhamdulillah persiapan menjelang hari H sejauh ini masih lancar.
    Terakhir, Izinkankanlah saya bersenandung dengan lagu dibawah ini :)

    ===============
    SYUKUR
    Seismic

    Segala puji pada-Mu Ya Rabbi
    Atas rahmat hari ini
    Terlabuh sudah
    Cinta suci sejati dari hati

    Janji tlah terucap akad tlah tercipta
    Tuk bersama jalani hari
    Ya Allah Rabbi bimbinglah kami
    Dalam menempuh hidup ini

    Marilah dinda kita melangkah
    Bersama saling membina
    Doakanlahku di setiap langkahku
    Doamu penyejuk kalbu

    Oh dinda menjadilah bunga
    Di indahnya taman cinta
    Ya Allah bimbinglah kami
    Di dalam perjalanan ini


    ADALAH ENGKAU
    Seismic

    Adalah Engkau dia yang kurindu
    Tuk menjadi bunga dihatiku
    Menjadi peneduh kalbu
    Diperjalananku

    Tibalah waktu yang telah kurindu
    Tuk selalu bersama denganmu
    Tlah terbuka pintu itu
    Akad tlah terucap sudah
    Dinda marilah melangkah

    Dinda temanilah aku di setiap detikku
    Dengan doamu
    Bila terpisahkan waktu
    Tetaplah di sini di dalam hatiku

    Ya Rabbi izinkanlah kami
    Untuk terjaga selalu di jalan-Mu
    Dinda doamu laksana pelepas dahaga
    Di lelahnya jiwa

    Adalah engkau dia yang kurindu
    Tuk selalu hadir dihidupku
    Mengiringi setiap langkah saat menuju
    Acuan hidup ini
    ===============

    Allahu Alam bishawab
    Wass wr wb

    ~IdE~

    namakuide butuh komentar Anda @ 09:09 am
    Kasih Komentar  

    -•-

    Wednesday, December 01, 2004
    Terlabuhkan

    kemana harus melepas gundah?
    kemana harus melepas resah?
    kemana harus mengusir lelah?
    kemana harus mengusir sepi?
    kemana harus melabuhkan rasa?

    kemana rasa harus bermuara?
    ketika arus semakin deras,
    ketika asa tak bisa lagi dipendam

    kemana hati harus menepi?
    ketika tak mudah lagi dijaga

    kemana rindu harus berlabuh?
    ketika tak ada tempat berteduh
    -----
    -----

    ;seorang bujang akan melepas lajang
    melalui ikatan yang suci
    sebuah perjanjian yang sangat berat, Mitsaqon Ghalidon, terlabuhkanlah semua itu
     

    ~IdE~
    #H-3#

    namakuide butuh komentar Anda @ 08:52 am
    Comment (1)  

    -•-

    Monday, November 29, 2004
    Rumahku Surgaku

    Kamar itu sempit. Seorang pria muda lamat-lamat memandangi buku-buku yang berserakan dihadapannya. Entah sejak kapan dia membelinya. Satu-persatu buku dia baca. Tak setiap buku habis dia baca memang, tapi hampir setiap bagian dari buku-buku tersebut dia lahap. Entah sudah berapa kali dia membaca buku dengan judul yang tetap sama itu. Nampak tulisan "Kupinang dengan Hamdalah", "Menikah di jalan Dakwah", "Kado pernikahan untuk istriku", "Sebelum Anda Mengambil Keputusan Besar Itu","Biar kuncupnya mekar jadi bunga" dan beberapa buku lain yang kalo diselidik bertemakan tentang keluarga atau pernikahan.  Akankah memang si pria itu akan menikah dalam waktu dekat ini? ataukah memang dia hanya sekedar membaca untuk mengumpulkan informasi dan memantapkan hati untuk menikah?

    Gemericik hujan dan udara dingin kota kembang memecah sunyi di kamar itu. Alunan akustik gitar dan lantunan lirik lagu dari seismic membuat ruang hatinya berwarna warni. Rumahku Surgaku, Ya ... itu judul lagunya, dari album group nasyid seismic, Terlabuhkan.
    Hujan semakin deras, udara semakin dingin, dan pria tersebut semakin larut dengan bacaannya.

    Dua hati menyatu kini
    Di dalam ikatan yang suci
    Tuk mengikuti sunnah Nabi
    Berharapkan ridha Illahi

    Semoga akan terciptakan
    Keluarga penuh kasih sayang
    Seperti yang pernah disampaikan
    Rasulullah tentang keluarganya

    Rumahku Syurgaku
    Tempat berlabuh hati yang teduh

    Ya Allah Rabbi teguhkan kami
    Dalam menempuh perjalanan nanti
    Ya Allah Rabbi dekatkan kami
    Selalu padamu disetiap waktu

    Rumahku Syurgaku
    Tempat di mana jiwa berlabuh

    Rumahku syurgaku
    Tempat di mana rindu berteduh
    (Rumahku surgaku, Album Terlabuhkan - Seismic)


    ~ IdE ~
    H-5

    namakuide butuh komentar Anda @ 08:49 am
    Comment (1)  

    -•-

    Friday, November 26, 2004
    Kuncup dirindukan Kumbang

    sekuncup bunga menerawang
    memikirkan kumbang yang tak kunjung datang
    dimanakah sang kumbang?
    masihkah dia di awang-awang?

    satu, dua, tiga hari ...
    sang bunga tetap menerawang
    dengan hati yang tak bisa riang
    haruskah aku yang menjemput kumbang?
    haruskah aku layu sebelum berkembang?
    demikian sang bunga dengan tetap menerawang

    disudut yang lain,
    sang kumbang kesana-kemari terbang
    untuk mencari kuncup bunga ditaman yang rindang
    kemana lagi aku harus datang?,
    supaya hati tak lagi bimbang,
    padahal hanya satu bunga yang aku rindukan

    sampai akhirnya nyiur angin membawa datang
    semerbak harum wewangian
    dari kuncup bunga yang akan mekar

    lamat-lamat sang kumbang mencium semerbak itu
    tanpa pikir panjang,
    kumbang mencari dari mana semerbak datang
    perlahan sang kumbang terbang
    dengan sayap tetap mengembang

    hatta ......
    sang bunga terlihat riang,
    mekar, merekah merona merah
    ketika kumbang menyambangi datang
    dan kumbang tak lagi bimbang

     
    ~ IdE ~
    #H-8#

    namakuide butuh komentar Anda @ 08:58 am
    Comment (1)  

    -•-

    Thursday, November 25, 2004
    2 Lebaran dengan air mata


    Setiap kita (pasti) pernah menangis. Air mata identik dengan tangisan. Haru, duka, suka, kesal, nestapa senantiasa mengiri tangisan tersebut. Tangisan kebahagian, tangisan kedukaan senantiasa saling beriringan. Apakah kita tidak boleh menangis ? tentu saja boleh, bahkan Nabi Muhammad s.a.w pernah bersabda:  "Tiap mata pasti akan menangis pada hari kiamat kecuali mata yang dipejamkan dari segala yang haram dan mata yang berjaga malam dalam jihad fisabilillah dan mata yang menitiskan air mata walaupun sebesar kepala lalat kerana takutkan Allah s.w.t."  (Riwayat Abu Naim).

    Lalu apa hubungannya Air mata dengan suasana idul Fitri? bagi saya khususnya?
    Idul Fitri ... kata tersebut senantiasa memberikan rasa yang berbeda di hati ini.
    Idul FItri ... sebuah kata yang tak asing lagi ditelinga kita, khususnya umat islam. Di indonesia, Idul Fitri identik dengan mudik, ketupat, opor ayam dan lainnya.
    Senantiasa ada nuansa yang berbeda di hari raya yang suci itu. Kebahagiaan, saling bermaafan, bertukar salam dan kartu lebaran.

    Entah mengapa ... sudah 2 lebaran terakhir ini ada nuansa yang sangat berbeda yang saya alami. Lebaran tahun lalu, seorang hamba Allah, Uwak saya (kakak ibu saya) dipanggil ke rahmatullah tepat pada H-1 lebaran tahun lalu. Sampai akhirnya Allah lebih sayang pada uwak saya dengan memanggilnya ke Rahmatullah. H-1 lebaran tahun kemarin kami lalui dengan linangan air mata melepas kepergian beliau ke alam baqa.
    Bagaimana dengan lebaran kali ini? Tepat 1 pekan setelah lebaran tahun ini, kembali satu orang uwak saya (kakaknya bapak) dipanggil ke rahmatullah. Masih dalam suasana lebaran, ketika panganan lebaran belumlah habis, ketika ketupat dan opor ayam masihlah tersedia untuk dimakan, salah satu orang yang kami cintai berpulang ke rahmatullah setelah stroke-nya kambuh lagi, ketika beliau jatuh di kamar mandi. Setelah dibawah kerumah sakit dan dirawat satu hari, Allah lebih menyayangi orang yang kami sayangi, beliau berpulang kerahmatullah.
    Sudah keharusan sebagai seorang muslim apalagi saya sebagai keluarganya untuk mengurus jenanah beliau dari memandikan, mengkafani, men-shalatkan sampai menguburkan.

    Ditinggalkan orang yang kita sayangi mungkin menyisakan duka di hati kita. Bagaimana tidak, Rasullullah junjungan kita, Muhammad SAW pernah sangat bersedih atas meninggalnya Ibrahim, anak beliau. Ketika Rasulullah berkata :

    "Oh  Ibrahim,  kalau  bukan karena soal kenyataan, dan janji yang tak dapat dibantah lagi, dan bahwa kami  yang  kemudian akan  menyusul  orang yang sudah lebih dahulu daripada kami, tentu akan lebih lagi kesedihan kami dari ini." Dan  setelah diam  sejenak,  katanya  lagi:  "Mata boleh bercucuran, hati dapat merasa duka, tapi kami hanya berkata apa yang  menjadi perkenan  Tuhan,  dan  bahwa  kami, O Ibrahim, sungguh sedih terhadapmu."

    Muslimin yang melihat Muhammad SAW begitu duka,  beberapa  orang terkemuka  hendak  mengurangi hal itu dengan mengingatkannya akan larangannya berbuat demikian. Tapi  ia  menjawab:  "Aku
    tidak  melarang  orang  berduka  cita,  tapi  yang  kularang menangis dengan suara  keras.  Apa  yang  kamu  lihat  dalam diriku  sekarang,  ialah  pengaruh  cinta  dan kasih didalam hati. Orang yang tiada menunjukkan  kasih  sayangnya,  orang lain  pun  tiada  akan  menunjukkan kasih sayang kepadanya."

    Disaat yang lain saya harus mempersiapkan segala hal berkaitan dengan walimahan (pernikahan) saya yang Insya Allah akan dilaksanakan pada 21 Syawal 1425 H, 13 hari kemudian setelah berpulangnya Uwak saya.  Alhamdulillah kami sekeluarga menerima dengan ikhlas kepergian beliau. Karena sekali lagi Kematian adalah sudah Allah tentukan. Sebagaimana firman Allah :
    Al Jumu'ah:8. "Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan."

    dan dalam surat Al Waqiah:60. "Kami telah menentukan kematian di antara kamu dan Kami sekali-sekali tidak akan dapat dikalahkan"

    2 Lebaran dengan air mata ... itulah yang saya alami.


    ~IdE~
    #25/11/04#


     

     

    namakuide butuh komentar Anda @ 01:27 pm
    Comment (1)  

    Biar kuncupnya mekar jadi bunga

    Biar kuncupnya mekar jadi bunga, itu adalah judul buku kumpulan kolom ayah karya Anis Matta.
    Beberapa waktu yang lalu, sibuk tanya sana sini tentang buku tersebut. Dapat referensi dari teman bahwa buku tersebut adalah buku wajib buat calon Ayah atau yang sudah jadi Ayah tapi gak tahu mau ngapain. Saya pikir .. apa benar sih demikian ?

    Mengenai Anis Matta sendiri saya tidak meragukan kualifikasi beliau. Tulisan-tulisannya sangat bagus, tajam, menyentuh dan indah kata-katanya dengan kedalaman makna dan hikmah. Terakhir saya beli bukunya yang berjudul mencari pahlawan indonesia, sebuah buku kumpulan tulisan beliau di majalah tarbawi kolom serial kepahlawanan. Dan juga buku Sebelum Anda Mengambil Keputusan Besar Itu (Kumpulan Ceramah Tentang Pernikahan), Asy-Syaamil, 2003.  Alhamdulilah dulu sempat hadir di bedah buku mencari pahlawan indonesia yang diselenggarakan majalah tarbawi di Mesjid PUSDAI Jabar. Dan tentu saja ust. Anis Matta yang hadir sebagai pembicaranya.

    Kembali ke buku Biar kuncupnya mekar jadi bunga, begitu mendapat referensi dari teman, saya langsung sibuk mencari itu buku. Tanya sana sini ttg keberadaan buku itu. Akhirnya setelah kesana-kemari mencari, dapatlah itu buku di sebuah toko buku mungil belakang mesjid Salman ITB. Alhamdulillah.
    Dan ternyata, benarlah bahwa buku itu sangat bagus untuk dibaca. Khususnya bagi calon ayah dan bagi seorang ayah. Pengalaman sehari-hari seorang Anis Matta ditambah kisah beberapa orang lain yang dimasukkan dalam buku itu sungguh memberikan nuansa lain dan sudut pandang lain bagi seorang ayah dan calon ayah.

    Biar kuncupnya mekar jadi bunga ... Ya .. Biarkanlah Kuncupnya mekar menjadi bunga. Mekar merekah ditaman yang indah. memancarkan warna yang merona merah. Biarkan kumbang bersemayam di kuncup bunga, sehingga kuncupnya merekah dan mekar menjadi bunga.

    Bagi seorang calon ayah ... anda akan menjadi seorang Ayah kalau Allah mengijinkan, seperti dikutip dalam buku itu, seorang Ayah akan menjadi tulang punggung keluarganya, akan menjadi tempat bergelayut keluh-kesah anak dan istri anda. Akan ada beberapa orang yang berlindung pada Anda. Siapkah Anda menjadi tulang punggung keluarga? siapkah Anda menjadi pelindung keluarga? Termasuk tentunya bagi saya. Siapkah saya menjadi seorang Ayah, pemberi nafkah lahir & bathin buat keluarga, pemberi rasa nyaman buat orang yang nanti berlindung dibelakang saya?

    Allahu Alam

    ~IdE~
    H-9

    namakuide butuh komentar Anda @ 08:58 am
    Kasih Komentar  

    -•-

    Tuesday, November 23, 2004
    Detik-detik menjelang pernikahan

    "Ayah .. begitu menggetarkan panggilan itu" , demikian penggalan artikel dari kolom ayah anis Matta.
    Menjadi teringat akan diri ini. Ayah ... Akankah saya menjadi seorang ayah? sudah pantaskah saya menjadi seorang ayah?
    Pernikahan adalah cara menjadi seorang ayah. Pernikahan yang berarti menggenapkan Dien kita. Begitu agungnya pernikahan, sehingga Al Qur’an menyebut Akad Nikah sebagai Mitsaqon Ghalidon [perjanjian yang berat].

    Antara harap dan cemas, begitulah suasana hati ini menjelang detik-detik akad nikah yang insya Allah tinggal dalam hitungan hari lagi.

    Menikah ... bukan hanya bergabungnya 2 individu, tapi juga bergabungnya 2 buah keluarga, yang bisa jadi memiliki latar, karakter dan kebudayaan yang berbeda. Setidaknya aku sudah bisa merasakan nuansa tersebut.

    Allah telah berfirman:
    “Diantara tanda-tanda keangungan Allah, ialah Dia ciptakan bagimu, dari jenis-jenismu sendiri, pasangan-pasangannya. Supaya kamu hidup tentram bersamanya, dan Allah jadikan bagimu cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya dalam hal itu ada tanda-tanda bagi orang-orang yang mau berfikir”. [QS 30 : 21]

    Dalam sebuah artikel yang pernah saya baca, bahwa Ayat ini ditempatkan Allah pada rangkaian ayat tentang tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta. Tentang tegaknya langit, terhamparnya bumi, gemuruh halilintar dann keajaiban penciptaan manusia. Dengan ayat ini Dia ingin mengajarkan kepada kita betapa Dia dengan sengaja menciptakan kekasih yang menjadi pasangan hidup manusia yang bersedia berdiri dengan setia disamping kita, yang mau mendengar bukan saja kata-kata yang diucapkan, melainkan juga jeritan hati yang tidak terungkapkan, yang mau menerima perasaan tanpa pura-pura, prasangka dan pamrih, yang mampu meniupkan kedamaian, mengobati luka, menopang tubuh lemah dan memperkuat hati.

    Allah menetapkan suatu ikatan suci, yaitu Akad Nikah, agar hubungan antara pecinta dan kekasihnya itu menyuburkan ketentraman, cinta dan kasih sayang. Dengan dua kalimat yang sederhana “Ijab dan Qabul” terjadilah perubahan besar: yang haram menjadi halal, yang maksiat menjadi ibadat, kekejian menjadi kesucian, dan kebebasan menjadi tanggung jawab. Maka nafsu pun berubah menjadi cinta dan kasih sayang.

    Peristiwa Akad Nikah bukanlah peristiwa kecil di hadapan Allah. Akad Nikah tidak saja disaksikan oleh kedua orang tuanya, saudara dan sahabat-sahabat tetapi juga disaksikan oleh para malaikat di langit yang tinggi dan terutama sekali disaksikan oleh Allah Rabbul Izzati [Penguasa Alam Semesta]. Maka apabila kamu sia-siakan perjanjian ini, ikatan yang sudah terbuhul, janji yang terpatri, kamu bukan hanya harus bertanggung jawab kepada mereka yang hadir, tetapi juga dihadapan Allah Rabbul Alamin
    Begitu trenyuh hati ini membaca artikel tersebut. Bergetar qolbuku meresapi uraian tersebut.

    Disaat yang lain, saya teringat akan hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari & Muslim :
    “Laki-laki adalah pemimpin di tengah keluarganya, dan ia harus mempertanggung jawabkan kepemimpinannya. Wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan ia harus mempertanggung jawabkan kepemimpinannya.” [HR Bukhori dan Muslim]

    “Yang paling baik diantara kamu adalah yang paling baik dan lembut terhadap keluarganya”. [HR Bukhari]

    Sebuah kepemimpinan. Ya... saya adalah laki-laki, dan dalam hadist tersebut disebutkan bahwa laki-laki adalah pemimipin di tengah keluarganya. Dan setiap kepemimpinan akan dimintai pertanggungjawabannya dihadapan Allah SWT. Sebuah Tanggung jawab yang luar biasa beratnya. Ya Allah ... mampukanlah saya memikul tanggung jawab ini, agar bisa menjadi nahkoda rumah tangga dan mengantarkan kapal rumah tangga selamat mengarungi bahtera dan badai yang tentunya senantiasa menghadang .. dan sampaikanlah ke pantai surga-Mu ya Allah ...

    “Ya Allah, karuniakan kepada kami isteri dan keturunan yang menentramkan hati kami, dan jadikanlah kami penghulu orang-orang yang bertaqwa”.

    Ya Allah…
    Indahkanlah rumah kami dengan kalimat-kalimat-Mu yang suci. Suburkanlah kami dengan keturunan yang membesarkan asma-Mu. Penuhi kami dengan amal shaleh yang Engkau ridhai. Jadikan mereka Yaa…Allah teladan yang baik bagi manusia

    ~IdE~
    H-10

    namakuide butuh komentar Anda @ 01:00 pm
    Kasih Komentar  

    -•-

    Tuesday, October 05, 2004
    Antara Cicaheum dan Ledeng

    Sore itu terminal Cicaheum terlihat basah. Tampak bekas hujan yang mengguyur kota Bandung. Saya baru sampai dari Garut sehabis menghadiri walimahan (resepsi pernikahan) seorang teman dekat. Begitu keluar dari terminal Cicaheum, mata saya langsung berpendar mencari angkot dengan tulisan Cicaheum-Ledeng. Tampak diluar terminal berderet angkot menunggu penumpang. Angkot pun saya pilih, dan tak lama kemudian angkot mulai merayap menapaki jengkal demi jengkal jalan raya, sambil sesekali atau bahkan berkali-kali berhenti untuk menaikkan dan menurunkan penumpang. Sampai akhirnya tiba disebuah lampu merah. Angkotpun berhenti. Lamat-lamat tampak sesesok manusia berjalan mendekati angkot dan menyapa pada pak supir.

    "Maaf pak ... saya kehabisan ongkos, mau ke Ledeng. boleh saya ikut?"
    "Yuk naik-naik ... " Timpal pak supir.
    Naiklah si bapak yang kehabisan ongkos itu ke angkot. Duduk menyempil didekat pintu keluar bagian belakang angkot. Saya termenung sejenak. Supir angkot itu lumayan sangar wajahnya, Manurung pula namanya (saya ketahui ketika temannya memanggil namanya). Tapi kok lembut ya hatinya? Hatinya tidak sesangar wajahna. => I get the lesson.<=

    Di angkot yang saya tumpangi itu, ada pula 2 orang calon bintara polisi dengan pakaian lengkap siswa SEBA (sekolah bintara). Tak lama setelah pak tua tadi duduk, sang calon bintara menukas pada pak tua.

    "Mau kemana pak?" tanya calon bintara.
    "Ini saya kehabisan ongkos, saya mau ke subang" (untuk ke subang, maka harus ke terminal ledeng dulu) .
    Dan sejurus kemudian, sang calon bintara polisi itu merogoh celananya dan langsung menyerahkan selembar uang kertas, entah berapa nominalnya.
    "Ini pak buat nambahin ongkos" Sahut sang calon polisi.
    "Terima kasih Den" pak tua menukas.
    Saya hanya bisa memandangi kejadian yang ada didepan mata saya itu.

    "Kok dia nggak curiga ya? kok dia langsung percaya ya kalau pak tua kehabisan ongkos? kok dia tidak berat merogoh koceknya demi mengongkosi pak tua yang belum tentu kehabisan ongkos? " gumam saya dalam hati. =>I get the lesson.<=

    Ternyata polisi tidak seburuk yang saya bayangkan. Yang terbayang selama ini adalah bahwa polisi itu senang sekali meminta-minta uang di jalan, karena ada beberapa oknum yang suka sekali melakukan hal itu. Akibatnya pandangan terhadap polisipun menjadi jelek. Tentu pandangan tersebut adalah salah, karena masih banyak polisi yang baik. Mungkin tepat pepatah yang mengatakan "Karena nila setitik, rusak susu sebelanga". Namun dalam kejadian ini saya diperlihatkan bahwa (calon) polisi pun bisa menjadi "tangan yang diatas".
    Penumpangpun sudah tidak betah berlama-lama di angkot. Maka satu persatu penumpang turun di tujuannya masing-masing. 2 siswa calon bintara turun mendahului saya. Dan sayapun turun setelah sampai di tujuan, meninggalkan pak supir dan sisa penumpang yang lain.

    Pak Supir, adek siswa SEBA, pak Tua ... Thanks for ur lesson!


    ~IdE~
    ::antara caheum & ledeng::
    #03/10/04#

    namakuide butuh komentar Anda @ 10:22 am
    Comments (2)  

    -•-

    Saturday, October 02, 2004
    Wanita, Lelaki & Helm batok mungil

    <!-- begin story -->

    Lelaki muda terhentak ketika menyadari Helm batok mungilnya sudah tiada. Kenapa gerangan helm itu pergi? Apakah dia sudah bosan dengan dirinya? padahal Helm tersebut sengaja dia peruntukan untuk seseorang yang akan mendampingi hidupnya kelak, kalau Tuhan mengijinkan.
    "Aku harus menemukannya kembali! " Gumamnya dalam hati.
    Sejurus kemudian dia berbalik arah untuk kembali menyusuri jalanan yang telah dia lewati. Petak demi petak tanah dia lewati. Meter demi meter jalanan dia lalui. Perlahan dia susuri apa yang telah dia lewati dengan menggunakan motor kesayangannya. Matanya menelikung berpendar kesemua arah. Tiap inci tanah dan jalanan tak luput dia teliti. Namun tak kunjung dia temui Helm batok mungil kesayangannya. Peluh bercucuran di wajahnya. Panas terik tak menghalanginya. Dengan tekad baja rintangan apapun akan dihadapinya.
    Sampai akhirnya dari kejauhan dia melihat sesosok wanita berkerudung hijau sedang berjalan menyusuri jalanan. Samar-samar terlihatnya. Semakin
    dekat semakin tampak dia terlihat. "Aduhaiii cantiknya " katanya dalam hati.
    "Tapi .. jagalah hati .. jangan kau kotori" dia menukas kembali dalam hatinya sembari teringat lagu dari Aa Gym.
    Dan akhirnya motornya semakin mendekati wanita itu.

    "Lho ... bukankah itu helm-ku? Tapi kenapa ada di kepalanya?" Dia melihat helm kesayangannya dipakai wanita manis berkerudung hijau, tapi tak yakin kalau itu helmnya.

    Motornya tetap melaju pelan dan akhirnya berpasan untuk bergerak menjauhi wanita itu. "Helm-ku bukan, Helm-ku bukan?" tanya dia dalam hati.
    "Ahhh ... kenapa tidak aku tanya saja pada wanita itu!" Tegas dia dalam hati.
    Akhirnya lelaki itu pun berbalik arah dan bergerak memacu motornya mendekati wanita itu.
    "Assalamualaikum " Ujarnya pada wanita itu.
    Wanita berkerudung hijau tersentak kaget dan sejenak kemudian menukas "Waalaikum salam" tukas wanita itu.

    "Maaf Teh, kalau saya tidak salah helm yang Teteh pakai itu adalah helm saya. Teteh  menemukannya di mana?"
    "Ohh ... ehh ... maaf, bagaimana anda bisa yakin kalau ini adalah helm anda" wanita itu agak kikuk sambil melepas helm dari kepalanya.
    "Soalnya helm saya jatuh di jalan, dan helm yang Teteh pakai mirip sekali dengan helm saya. Coba deh dilihat di bagian dalam helm itu, saya sengaja menuliskan puisi di dalamnya.

    Sejenak wanita itu melihat bagian dalam helm batok mungil, dan terukir tulisan indah disana. "Lho ini khan puisi Sapardi Djoko Darmono" Gumam wanita itu dalam hati.

    "Maaf, kalau boleh, Anda ucapkan puisi yang anda maksud. Supaya saya yakin kalau ini adalah helm anda"

    Dengan lembut dan mantap, sang lelaki itupun berucap

    "Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
    dengan kata yang tak sempat diucapkan
    kayu kepada api yang menjadikannya abu

    Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
    dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
    awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

    "

    Selesai membacakan puisi itu, sang lelaki kemudian menukas "Teteh sudah yakin kalau itu adalah helm saya? Maaf apabila puisi yang baru saya bacakan tersebut mengganggu perasaan Teteh"

    Wanita berkerudung hijau agak tersipu malu. Dia tetap berusaha bersikap biasa. Namun tak urung rona merah di wajahnya terlihat jelas bak rembulan menerangi malam. Dengan tetap menundukkan pandangan, dia berkata " Maaf, bukan saya berniat jelek dengan helm ini. Tapi saya tidak mau helm ini jatuh pada orang yang tidak berhak. Apalagi saya lihat helm ini terawat dengan baik dan masih mulus. Sekarang saya yakin kalau helm ini adalah milik Anda. Tadi saya menemukannya teronggok di jalanan. Daripada nanti terlindas oleh kendaraan lain, maka saya ambil untuk dicoba dikembalikan pada pemliknya."

    "Terima kasih banyak teteh telah berbaik hati menyelamatkan helm saya"

    Maka berpindah tanganlah helm batok mungil itu kepada pemiliknya.

    "Oh ya teteh pulangnya kemana? Boleh saya antar ? sebagai ucapan terima kasih saya" ucap sang lelaki.

     "Oo .. tidak usah repot-repot. Rumah saya sudah dekat kok. Dan kaki saya masih kuat untuk berjalan sampai ke rumah" wanita itu menimpali.

    "Iya deh .. sekali lagi terima kasih Teh. Kalau begitu saya duluan"

    "Silahkan"

    Dan kedua insan manusia itu pun berpisah ... entah apa yang berkecamuk di hati keduanya.
     

    <!-- bersambung -->

     

    ~IdE~
    #02/10/04#

    namakuide butuh komentar Anda @ 10:49 am
    Kasih Komentar  

    -•-

    Wednesday, September 29, 2004
    Senyummu .. kebahagiaan bagiku

    Tubuhnya ringkih. bola matanya menjorok kedalam. keriput bagaikan alur diwajahnya. Peluh bercucuran di dahinya. Dia berjalan menyusuri pelosok kota. Kadang tegap, kadang terhuyung-huyung dengan memikul tanggungan di bahunya. Tergopoh-gopoh dia menyeberangi jalan raya diiringi sumpah serapah pengemudi jalan raya disertai sahutan knalpot yang memekakan telinga. Tapi hanya senyuman yang dia keluarkan dari mulutnya. Semburat kebahagiaan senantiasa terpancar dari wajahnya. Bibirnya selalu merekah menebar senyum pada sesamanya. Sambil sesekali dia berteriak "Bandross ... bandross" (*).

    Usia tuanya tak membuat dia berhenti bekerja menjemput rezeqi, mencari nafkah untuk sekedar makan dan memenuhi kebutuhan hidup dan keluarganya tercinta.
    Sesekali dia berhenti ketika matahari sudah semakin terik memancarkan panasnya. Di bawah pohon rimbun dia merebahkan diri sambil mengipas-ngipaskan selembar koran pembungkus dagangannya. Ketika ditatapnya Bandros dagangannya masih berjejer rapi di tempatnya. Baru satu atau dua biji yang terjual. Tapi dia tetap tersenyum, karena yakin toh Allahlah yang memberikan rezeqi bukan dia ataupun pembeli.

    Wajah tuanya tak membuat dia berhenti menebar senyuman. Bak kuncup bunga, senyumannya selalu merekah. Membuat bahagia siapapun yang memandangnya. Kondisi kekurangan materi tak membuatnya lantas bersedih dan bermuram durja. Malah optimis yang dia tampakkan.

    Entah kenapa, Pak tua tadi, dan juga banyak orang yang senasib dengannnya selalu membuat diri ini bahagia ketika memandang mereka. Bagaimana tidak, serba kecukupan yang aku alami kadang masih sering membuat aku berkeluh kesah. Selalu saja merasa kurang. Inilah  itulah, padahal semua serba berkecukupan. Padahal sindiran Allah dalam surat Arrahman "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?" sudah dihapal dengan sangat baik di otak ini. Astagfirullah ....

    Kemudian aku teringat kisah ketika Sa'd bin Mu'adz menyambut Nabi dari perang Tabuk. Baginda melihat tangan Sa'd yang menghitam dan melepuh, "Kenapa tanganmu?" tanya Rasul
    Sa'd menjawab: "Karena diakibatkan oleh palu dan sekop besi yang saya pergunakan untuk mencari nafkah untuk keluarga yg menjadi tanggunganku."
    Rasulullah saw. mengambil tangan sa'd dan menciumnya, "Inilah tangan yg tidak akan pernah disentuh api neraka." Lihatlah...Rasul yang tangannya dijadikan rebutan untuk diciumi, sekarang mencium tangan yang kasar dan hitam melepuh.

    Akankah tanganku yang penuh dengan kemaksiatan dan lumuran dosa ini mendapat perlakuan serupa Sa'ad bin Mu'adz? Ataukah tangan pak Tua yang lebih pantas mendapat perlakuan seperti Sa'ad bin Mu'adz? Allahu Alam.

    Setiap pagi dalam perjalan menuju kantor seringkali  wajah teduh pak tua itu menularkan kebahagiaan dan optimisme pada diri ini. Dan entah kenapa setiap ada permasalahan dan kejengkelan di hati ini, sirna seketika ketika di jalan bisa menatap wajah-wajah seperti pak tua tadi. Sungguh mereka bukanlah orang pintar dengan IQ yang tinggi menurut ukuran manusia, dan kadang keberadaan merekapun ter-marginalkan bahkan dianggap remeh. Tapi entah kenapa .. sekali lagi entah kenapa, menatap senyuman di wajah mereka senantiasa bisa menularkan rasa bahagia dan tentram dihati ini.

    Pak Tua ... tetaplah tersenyum untuk kami!

     
    ~IdE~
    #29/09/04#
    *) Bandros : nama makanan

    namakuide butuh komentar Anda @ 04:37 pm
    Comments (2)  

    -•-

    Previous Page    Next Page